(CATATAN REDAKSI) 'Investasi' Konflik Lahan, Bom Waktu yang Tak Dituntaskan -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

(CATATAN REDAKSI) 'Investasi' Konflik Lahan, Bom Waktu yang Tak Dituntaskan

tuntas.co.id


Ilustrasi | Unjukrasa kelompok HMB di Batanghari. Kelompok ini terlibat konflik lahan dengan PT WKS | net

JAMBI, TUNTAS.CO.ID - Muslim dibekuk tim gabungan TNI Polri, Kamis (18/7). Pemimpin kelompok massa Serikat Mandiri Batanghari (SMB) diangkut bersama 44 orang anggotanya.

Aksi brutal kelompok ini ditengarai sudah jadi catatan panjang. Selama berbilang tahun mereka menjadi bagian utama dari konflik lahan dengan PT Wira Karya Sejati (WKS). Anak perusahaan Sinarmas Group yang memiliki konsesi lahan di Kabupten Batanghari.

Dalam catatan jejak digital, kentara mereka tak pilih bulu. Aparat penegak hukum pun tak segan-segan mereka jadikan sasaran amukan.

Beberapa bulan yang lalu, Muslim dan ratusan anggota SMB bahkan 'mengepung' kantor Polres Batanghari. Menuntut rekan mereka yang terlibat tindak pidana, dibebaskan.

Tentu mereka tak bertangan kosong. Melainkan bersenjata bambu runcing dan bertahan selama beberapa hari di sekitar kantor Polres Batanghari.

Konflik terbaru. Anggota TNI yang bertugas melakukan pengamanan di area amukan mereka di PT WKS, terluka karena senjata tajam mereka. Puluhan pucuk senjata api juga mereka tenteng enteng ketika menyerang petugas.

Jambi, negeri yang cukup merata dengan catatan konflik lahan. Hanya saja, belum terlihat aksi penegakan hukum yang tegas dan berdampak besar.

Akibatnya, kelompok massa dan organisasi tertentu, nyaris secara bebas dan leluasa bergerak. Menjadi pelindung dari perambahan hutan.

Konflik terbuka pun terjadi. Seperti dengan PT WKS di Batanghari, lawan PT LAJ di Tebo, serta bergesekan kerad dengan penduduk lokal di kawasan kaki Gunung Masurai di Kabupaten Merangin.

Untuk konflik lahan di Merangin. Catatan khusus mungkin patut jadi perhatian penegak hukum dan pihak terkait lainnya. Karena 'negara nyaris tak punya harga' dalam konflik perambahan hutan puluhan tahun ini.

Jangan tanya kondisi hutan berstatus hutan produksi (HP) atau area penggunaan lain (APL). Taman  Nasional Kerinci Sebelat (TNKS)pun sudah puluhan dihancurkan ribuan hektar.

Sudah berkali-kali kantor Polres Merangin didemonstrasi. Sudah berkali-kali pula mediasi tanpa penyelesaian yang pasti dan sistematis.

Tercatat pula sudah beberapa kali para perambah hutan memblokir jalan raya Bangko-Jangkat. Lagi-lagi, penegakan hukum nyaris tak menyentuh pelaku utama dan tak menghentikan perambahan hutan yang nyata-nyata pelanggaran hukum pidana.

Awas! Muslim Cs adalah bom waktu yang sudah meledak dan makan korban. Tetapi masih beberapa bom waktu lain yang tidak kalah dalam hal potensi bahayanya.

Catatan untuk negara. 'Investasi' dalam konflik lahan, adalah berbahaya dan bom waktu yang mungkin akan meledak jika tak dituntaskan.

Salam Redaksi