Masuknya Islam di Indonesia -->
Cari Berita

GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Masuknya Islam di Indonesia

tuntas.co.id

Opini sejarah singkat penyelenggaraan Islam
Oleh Meri Aulia.,S.Pd


TUNTAS.CO.ID_JAMBI - Menurut Azyumardi Azra dalam (Nasution, 2020), Islam masuk ke Indonesia itu tidak hanya berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, atau datang dalam waktu bersamaan. 


Untuk dapat mengetahui kapan, dimana, oleh siapa penyebaran Islam di Indonesia Pertama kali harus merujuk kepada sejarah. Banyak perbedaan sudut pandang, bukti dan hasil penelitian yang ditunjukkan tentunya akan menghasilkan teori-teori masuknya Islam di Indonesia.


Pertama, Teori Arab. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa dan disebar ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke 7/8 M (Syafrizal, 2015). Daerah pertama yang disinggahi pedagang-pedagang muslim Arab ini adalah Barus Tapanuli (Barus-Sibolga Kab.TAPTENG). 


Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arkeolog akan sumber-sumber epigrafi yang berbentuk batu nisan. (Guillot, Claude) Dari sekian banyak batu nisan hanya 38 buah yang mempunyai tulisan. 


36 buah tersebar di Kompleks Makam Ibrahim, Kompleks Makam Ambar, Kompleks Makam Maqdum, Kompleks Makam Mahligai dan makam Papan Tinggi sedangkan dua lagi ada di museum Medan(Nasution, 2020).

 

Menurut Moeflih Hasbullah dalam (Nasution, 2020) teori ini di dukung oleh Krawfurl, Keijzer, Nieman, de Hollender, J. C. Van Leur, Thomas W. Arnold, al-Attas, Hamka, Djajadiningrat, Mukti Ali dan tokoh yang paling gigih mempertahankan teori ini adalah Naquib al-Attas.


Kedua, Teori India. Teori ini dikemukakan oleh Pojnappel, menurutnya orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i yang berimigrasi dan menetap diIndia yang kemudian membawa Islam ke nusantara.


Teori ini kemudian dikembangan oleh Snouck Hurgronje, menurutnya ulama-ulama Gujarat yang penyebar Islam pertama di nusantara, baru kemudian disusul orang-orang Arab. Menurut Dedi Supriyadi di dalam (Permana, n.d.) pendukung teori ini, diantaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A. Kern, dan C.A.O. Van Nieuwinhuize. Moeflih Hasbullah dalam (Nasution, 2020) mengatakan Pijnapel mengemukakan tiga argumen untuk teori ini; Pertama, alasan Mazhab fiqh.


Menurutnya dua wilayah India. Gujarat dan Malabar adalah yang pertama kali menganut Mazhab Syafi’iyah sebelum dibawa dan berkembang di Asia Tenggara. Kedua, alasan politik, dengan keruntuhan kekuasaan Baghdad, banyak para Sufi yang kemudian melakukan perjalanan ke wilayah Asia Tenggara melalui India. Ketiga, alasan arkeologi berupa batu nisan yang ditemukan memiliki kesamaan dengan batu nisan dari India.


Masih banyak teori-teori lainnya seperti teori, Persia, Cina dan Turki. Pada hakikatnya tidak ada teori yang pasti dan baku. teori-teori tersebut tidak menggugurkan teori sebelumnya, tetapi melengkapi proses Islamisasi.


Dalam penyebaran Islam di Indonesia terdapat bermacam-macam strategi tanpa unsur paksaan. Diantaranya yaitu pertama, melalui jalur perdagangan, adanya interaksi antar pedagang muslim dari berbagai negeri berlangsung lama sehingga pada akhirnya membentuk masyarakat muslim. Kedua, melalui jalur dakwah, hal tersebut dilakukan oleh para muballigh pedagang yang merangkap tugas menjadi pedagang. Ketiga, melalui jalur perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, muballigh dengan anak bangsawan. Keempat, melalui jalur pendidikan dan yang kelima jalur kultural (Syafrizal, 2015).


Para sejarawan sepakat bahwa Sumatra adalah daerah pertama yang didatangi Islam, kemudian berlanjut ke tanah Jawa. Menurut Haidar dalam (Nasution, 2020) bahwa modus ekonomi/perdagangan membawa perkembangan Islam ke belahan Timur Indonesia, Maluku pada abad ke-14 Masehi, Sulawesi Selatan abad ke-15 dan kemudian berlanjut ke daerah Kalimantan, Banjarmasin pada awal abad ke-16 tepatnya tahun 1550.


Dalam proses penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari tokoh-tokoh utama. Peranan tokoh memberikan daya semangat sehingga Islam dapat tersebar hingga ke seluruh pelosok Nusantara.


Namun dari tokoh utama penyebar Islam tidak terlepas dari kerajaan, disebabkan Nusantara terbentuk atas kerajaan-kerajaan. Selain itu peran para ulama tidak bisa dilupakan dalam proses Islamisasi di Nusantara. 


Pulau Sumatera menjadi daerah yang pertama mendapat penyebaran agama Islam dikarenakan posisi pulau Sumatera yang dekat dengan selat Malaka yang pada masa itu merupakan pusat bisnis atau pusat perdagangan. 


Disepanjang pesisir Selat Malaka dan pesisir barat Sumatera, telah berdiri banyak kerajaan Islam, baik yang besar maupun yang kecil. Kerajaan tersebut antara lain adalah Aceh, Biar dan Lambri, Pedir, Pirada, Pase, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, Tongkal, Indragiri, Jambi, Palembang, Andalas, Pariaman, Minangkabau, Tiku, Panchur, dan Barus. 


Begitu pula dengan pulau Jawa, Proses islamisasi yang terjadi di beberapa kota pesisir utara Jawa, dari bagian timur sampai ke barat, lambat laun menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kesultanan Mataram. 


Ketika kerajaan Majapahit mengalami kemunduran sekitar abad ke 15 M, kota-kota pelabuhan seperti Tuban dan Gresik muncul sebagai pusat penyebaran agama Islam. Dari dua kota ini lah pengaruh agama Islam menyebar ke kota pelabuhan lain seperti Demak, bahkan sampai ke Maluku. 


Dari Demak pengaruh Islam menyebar ke kota-kota yang merupakan daerah perdagangan yang sangat ramai seperti Cirebon, Sunda Kelapa, dan Banten. Di samping kerajaan, peranan para ulama di Pulau Jawa begitu sangat penting dalam penyebaran islam. Para ulama ini di samping sebagai pewaris para Nabi juga berperan sebagai penyatu budaya lokal dengan Islam (Syafrizal, 2015). 


Adapun Faktor yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh rakyat Indonesia dan berkembang dengan cepat ialah pertama, syarat masuk Islam sangat mudah. Kedua, ajaran Islam tidak mengenal adanya kasta dan menganggap semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah. Ketiga, upacara-upacara keagamaan Islam sangat sederhana.


Selanjutnya, keempat, Agama Islam yang menyebar di Indonesia disesuaikan dengan adat dan tradisi bangsa Indonesia dan penyebarannya dilakukan dengan damai tanpa kekerasan. Kelima, sifat bangsa Indonesia yang ramah tamah memberi peluang untuk bergaul yang lebih erat dengan bangsa lain. Keenam, runtuhnya kerajaan Majapahit memperlancar penyebaran agama Islam di Indonesia. Faktor-faktor tersebut didukung pula dengan semangat para penganut Islam yang terus menyebarkan agama Islam.


Oleh : Oleh Meri Aulia.,S.Pd

Referensi  :

Nasution, F. (2020). Kedatangan dan Perkembangan Islam di Indonesia.

Permana,R.(n.d.).Sejarah masuknya Islam ke Indonesia. 

Syafrizal, A. (2015). Sejarah islam nusantara. 2(2), 236–253.