Ketua NU Sarolangun : Melihat Video Jangan Sepotong-Sepotong, Gus Yaqut yang Merupakan Santri dan Keturunan Kiayi -->
Cari Berita

GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Ketua NU Sarolangun : Melihat Video Jangan Sepotong-Sepotong, Gus Yaqut yang Merupakan Santri dan Keturunan Kiayi

tuntas.co.id

Sarolangun. Ketua Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama kabupaten Sarolangun H. M. Syatar, Jumat (25/2), meminta masyarakat untuk mencermati penuh mengenai Surat Edaran Menteri Agama tentang pengaturan pengeras suara di tempat ibadah, supaya kita semua memahami dan tidak termakan isu isu yang belum jelas kebenarannya. Beliau menyakini bahwa itu semata-mata untuk kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas beribadah satu sama lain.   " ayo kita semua untuk bisa mencermati benar mengenai SE menteri agama tersebut, supaya kita semua tau dan paham maksudnya, karena tidak ada ditemukan menteri agama melarang untuk menggunakan pengeras suara/toa di masjid-masjid. Saya menyakini betul apa yang di buat menteri agama itu merupakan upaya untuk menciptakan kenyamanan dan kekhusukan masyarakat dalam menjalankan ibadah, dan yang harus saya tekankan tidak ada dalam SE itu bahwa menteri agama melarang menggunakan toa, apa yang beredar itu adalah informasi yang hoax." Kata H. M. Syatar .   selanjutnya menanggapi video penyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait dengan pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid beberapa waktu yang lalu, beliau mengingatkan kita semua untuk cermati betul serta menyaksikan video tersebut jangan sepotong sepotong supaya Kita bisa tua maksudnya, karena tidak mungkin menteri agama Gus Yaqut yang merupakan santri dan keturunan kiayi sepuh bermaksud membandingkan suara azan dengan suara binatang.  " Ayo kita semua untuk mencermati isi video tersebut dengan jelas dan tidak boleh sepotong sepotong supaya Kita paham maksud dengan apa yang di sampaikan menteri agama tersebut tidaklah bermaksud untuk menodai agama kita Islam, dengan membandingkan suara azan dengan suara binatang, kita tau bahwa beliau merupakan ulama, alumni santri dan keturunan kiayi sepuh, tidak mungkin bermaksud demikian, " tambah H. M. Syatar  Selanjutnya dirinya meminta kepada masyarakat khususnya warga Nahdiyin untuk tetap menjadi penyejuk, mendinginkan suasana antara masyarakat agar tetap damai dan menjaga harmonisasi satu dengan yang lainnya, kerena bagaimanapun juga NKRI harga mati.
Ketua Nahdatul Ulama Sarolangun. (Poto/Ist)


TUNTAS.CO.ID_SAROLANGUN - Ketua Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama kabupaten Sarolangun H. M. Syatar, Jumat (25/2), meminta masyarakat untuk mencermati penuh mengenai Surat Edaran Menteri Agama tentang pengaturan pengeras suara ditempat ibadah, supaya kita semua memahami dan tidak termakan isu-isu yang belum jelas kebenarannya. 


Beliau menyakini bahwa itu semata-mata untuk kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas beribadah satu sama lain. 


"Ayo kita semua untuk bisa mencermati mengenai SE menteri agama tersebut, supaya kita semua tahu dan paham maksudnya, karena tidak ada ditemukan menteri agama melarang untuk menggunakan pengeras suara/toa di masjid-masjid," kata ketua NU Sarolangun, M Satar.


"Saya menyakini betul apa yang di buat menteri agama itu merupakan upaya untuk menciptakan kenyamanan dan kekhusukan masyarakat dalam menjalankan ibadah, dan yang harus saya tekankan tidak ada dalam SE itu bahwa menteri agama melarang menggunakan toa, apa yang beredar itu adalah informasi yang hoax," sambungnya.


Selanjutnya menanggapi video penyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait dengan pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid beberapa waktu yang lalu. M Satar yang juga Kepala Kemenag Sarolangun ini mengingatkan kita semua untuk mencermati betul serta menyaksikan video tersebut jangan sepotong-sepotong supaya kita bisa paham maksudnya, karena tidak mungkin menteri agama Gus Yaqut yang merupakan santri dan keturunan kiayi sepuh bermaksud membandingkan suara azan dengan suara binatang.


" Ayo kita semua untuk mencermati isi video tersebut dengan jelas dan tidak boleh sepotong-sepotong supaya kita paham maksud dengan apa yang disampaikan menteri agama tersebut tidaklah bermaksud untuk menodai agama kita Islam, dengan membandingkan suara azan dengan suara binatang, kita tahu bahwa beliau merupakan ulama, alumni santri dan keturunan kiayi sepuh, tidak mungkin bermaksud demikian," tambah  M. Syatar


Selanjutnya dirinya meminta kepada masyarakat khususnya warga Nahdiyin untuk tetap menjadi penyejuk, mendinginkan suasana antara masyarakat agar tetap damai dan menjaga harmonisasi satu dengan yang lainnya, kerena bagaimanapun juga NKRI harga mati.

(HT)