Wartawan Punya Peran Penting Sabagai Bagian Kekuasaan di China dan Mereka Termasuk Elite -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Wartawan Punya Peran Penting Sabagai Bagian Kekuasaan di China dan Mereka Termasuk Elite

tuntas.co.id

Ilustrasi perlengkapan jurnalis menulis berita. Foto: Medium


Di Cina pada era Dengxioping , kebijakan terhadap kebebasan media massa lebih jelas. Intinya pastikan berita karena ada kesalahan yang harus di perbaiki. Tapi ingat karena setiap berita akan ada korban maka pimpinan media massa bertanggung jawab secara hukum bila pemberitaannya terbukti tidak benar. 

Akibatnya pekerjaan wartawan secara lambat namun pasti berubah menjadi pekerjaan professional, bahkan termasuk pekerjaan paling sulit kompetisinya bagi setiap lulusan universitas. Bahkan lebih sulit dibandingkan kerja di Bank atau Lembaga Riset. 

Ada istilah di China “ Kalau tamat universitas diterima bekerja di media massa maka pilihlah dia sebagai suami atau istri atau menantu. Karena hanya masalah waktu dia akan jadi orang hebat.”. Makanya gaji mereka paling tinggi standarnya dibandingkan profesi lain. 

Itu menggambarkan betapa sulit kompetisi menjadi segelintir orang hebat. Mengapa ? karena wartawan punya peran penting sabagai bagian kekuasaan di China dan mereka termasuk elite.

Jadi mengapa begitu sulit ? Contoh, untuk menjadi wartawan ekonomi, mereka harus menguasai ilmu ekonomi dengan level diatas rata rata. Bukan itu saja,  sebelum mereka di terjunkan kelapangan, mereka harus magang sebagai periset dibidang ekonomi. Tentu magang atas gaji dari perusahaanya. 

Sedikitnya dalam setahun minimal 4 tulisannya masuk dalam jurnal ekonomi kelas dunia. Setiap wartawan ekonomi diberi kebebasan menentukan spesialisasinya. Ada bidang  Perbankan atau moneter, fsikal, kebijakan publik, APBN, Pemasaran, Produksi atau sektor real termasuk ekonomi kerakyatan. Proses ini berlaku juga bagi calon wartawan dibidang Sosial, politik , militer dan Iptek.

Setelah lolos magang , maka mereka kembali ke kantor pers dengan jabatan terendah yaitu di dapur Pers, sebagai penyumbang data dan informasi bagi wartawan yang terjun kelapangan. Proses ini harus dilalui sedikitnya 5 tahun. Selama proses itu mereka di awasi ketat. Kalau sedikit saja perannya tidak memuaskan teamnya maka dia akan tersingkir alias di PHK. 

Setelah itu, barulah mereka diterjunkan kelapangan. Tapi itupun bukan sebagai penyumbang berita. Pekerjaannya hanya sebagai asisten dari wartawan lapangan. Kelak apabila atasannya merekomendasikan bahwa dia qualified di terjunkan sendiri maka barulah dia mendapat predikat ‘Wartawan”.

Tapi biasanya paling lama setelah 5 tahun bekerja sebagai wartawan, mereka sudah mengundurkan diri. Mengapa ? ada banyak lembaga menawarkan jabatan professional bergengsi untuk mereka. Lembaga mana ? ya urutan pertama adalah lembaga keuangan paling banyak membutuhkan tenaga ahlinya sebagia analis. 

Diurutan kedua, adalah anggota parlemen atau dewan kota. Mereka diperlukan sebagai penasehat ahli. Urutan ketiga adalah Trans National Corporation dll. Tentu gaji mereka sangat besar. Dan biasanya masuk usia 40 tahun , Partai Komunis sudah mengincar mereka jadi kader. Dengan ini, karir politik semakin terbuka lebar untuk menjadi pemimpin, entah itu direktur BUMN, atau bupati atau apalah.

Jadi dengan demikian engga mungkin ada sebagaimana di Indonesia issue soal Pemerintah beli gas di singapore jadi bahan berita. Mengapa ? karena wartawan  sangat menguasai aspek tekhnis dan non teknis untuk tahu pasti kebijakan itu rasional atau korup. Sepanjang itu memang proses kebijakan  yang rasional maka mereka tidak akan angkat sebagai issue sebagai berita.  Meikarta, tidak akan jadi issue bagi mereka. Karena mereka sangat pahami bisnis properti dari segi perencanaan sampai perizinan. Tidak akan ada berita miring soal hutang. Karena mereka sangat menguasai kebijakan dibalik hutang dan juga punya kemampuan menganalisa data dengan hebat.

Begitulah kerja sebagai wartawan, yang bukan hanya dibutuhkan kehebatan intelektual dan terpelajar tapi juga dibutuhkan kekuatan spiritual yang sadar bahwa mereka bagian dari sistem kekuasaan negara yang ikut menentukan perubahan peradaban yang lebih baik. Berita rumor berkatagori rendah moral jelas mereka hindari.

Apalagi dasar analisa warung kopi, yang tanpa dasar keilmuan dan pengalaman cukup untuk membuat analisa. Dengan wartawan hebat maka apa yang terjadi? Berita yang dibaca orang semakin membuat orang cerdas secaran intelek dan moral. Dan tentu membuat pejabat pemerintah engga sembarangan membuat kebijakan. Karena ada wartawan yang otaknya diatas mereka.
(*) 

Dilansir dari tulisan Babo Dengan Judul Profesi Wartawan (Politik)