Demoralisasi Oposisi atau Oposisi yang Cerdas dan Kristis Berliterasi -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Demoralisasi Oposisi atau Oposisi yang Cerdas dan Kristis Berliterasi

tuntas.co.id

Poto : Istimewa

Oleh : Erizeli Jely Bandaro
Kamis 21 Januari 2021

Kalaulah ada oposisi seperti Nelson Mandela, mungkin perubahan yang dilakukan Jokowi lebih efektif. Tetapi yang menyedihkan adalah justru demoralisasi terjadi pada kaum oposisi. Ini bukan hanya soal agenda politik mereka yang tidak jelas tetapi secara personal juga engga mendidik. Apalagi di era digital sekarang ini. 

Tidak ada yang bisa tersembunyi. Semua terungkapkan dengan vulgar dan rakyat punya hak melaporkan mereka ke polisi lewat UU ITE dan ujaran kebencian. Ada Ustad yang luar biasa follower nya. Kata kata bijaknya sangat inspiratif dan dipuja oleh pengikutnya. Dia menjadi influencer. Opininya dalam hal politik dipercaya. 

Tetapi apa hendak dikata. Mereka terguncang oleh masalah keluarga. Ada yang sudah beristri dua, bercerai. Yang istrinya satu, juga bercerai. Perceraian itu terjadi justru disaat mereka jadi idola orang banyak. Ada juga yang belum kering kuburan istrinya, dia sudah menikah lagi. Ada juga elite partai yang sangat populis, ternyata like akun pornogaphi. Ada juga tersangkut kasus chat mesum.

Ada yang profesor, secara psikis engga jelas pria atau wanita. Jomblo sampai ubanan. Ada yang sudah tua menikah dengan artis tenar. Ada yng doyan pelihara ayam aduan. Yang jelas kehidupan personal mereka cenderung hedonis. Ikut Club Moge, doyan mobil mewah. Dan mereka tidak merasa sungkan mempertontonkan kehidupan glamor itu secara vulgar lewat akun sosia media. 

Jauh sekali dengan sikap Mahatma Gandhi atau Nelson Mandela. Apalagi dengan sikap Jokowi, presiden yang mereka agitasikan. Namun bagaimanapun itu masalah personal. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang jadi masalah, mereka merasa paling benar dan suci secara personal. 

Sementara kemampuan literasi mereka juga rendah. Kehebatan mereka hanyalah menguasai panggung dan berbicara di hadapan audience untuk memuaskan kebencian mereka kepada Jokowi. Jadi sebenarnya tidak ada pendidikan politik atau spiritual yang mereka berikan. Justru mereka menanamkan distrust kepada kepemimpinan nasional.

Saya setuju dengan Pemerintah berencana memberikan pelatihan kepada penceramah dan pengelola rumah ibadah agar memiliki pemahaman terhadap pencegahan tindakan ektremisme. Hal itu termaktub dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.

Ini bukan hanya kepada umat islam tetapi semua agama. Tujuanya agar masyarakat cerdas menyerap informasi dan tidak jadi korban influencer petualang yang menggiring mereka jadi teroris. 

Bagaimanapun pemerintah perlu oposisi yang cerdas dan kristis berliterasi. Sehingga proses pembangunan demokrasi melahirkan keseimbangan. (*)