Dijanjikan Beasiswa oleh Pemkab Muratara di Unisa Yogyakarta, Mahasiwa Mengaku Tak Pernah Menerima Uangnya -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Dijanjikan Beasiswa oleh Pemkab Muratara di Unisa Yogyakarta, Mahasiwa Mengaku Tak Pernah Menerima Uangnya

tuntas.co.id

MURATARA- Menanggapi statemen dari Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara(Muratara) terkait pemberian beasiswa kepada Mahasiswa Muratara yang berada di UNISA Yogyakarta, ternyata belum diterima oleh mahasiswa di sana, hal tersebut dipertanyakan oleh beberapa mahasiswa Muratara di Unisa, Minggu (2/8/2020).

Sejumlah Mahasiswa muratara kuliah di Universitas Aisyiyah Yogyakarta (unisa) mempertanyakan bantuan beasiswa dari Pemkab Muratara yang selama ini dijanji-janjikan, bahkan dari tahun masuk 2017, sampai saat ini belum ada kejelasan beasiswa yang mereka terima.

Dijelaskan oleh mahasiswa Muratara di Unisa, Mela Musila, kerjasama atau MoU antara Pemkab Muratara dengan Universitas Aisyiyah Yogyakarta dilakukan pada tahun 2017 tentang pengiriman Mahasiswa dari Muratara untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana (S-1) di Unisa.

Adapun yang digadang-gadang sebagai penerima pengiriman perdana pada tahun 2017 yang berjumlah sembilan orang di antaranya ialah :

1. Dhika Restiana Prodi S1 Akuntansi
2.Vira Melinda Prodi S1 Psikologi
3. Yuni Oktaria Prodi S1 Manajemen
4. Nafa Urbayanti Prodi S1 Akuntansi
5. Nova Andriani Prodi S1 Manajemen
6. Yoga Afriansyah Prodi S1 Akuntansi
7. Ira Nurfatin Prodi S1 Administrasi Publik
8.Mela Mursila prodi S1 Manajemen
9. Ade Anggun Febriani Prodi S1 Psikologi.

Lalu pengiriman ke dua pada tahun 2019
Ada 1 mahasiswa dari SAD yaitu
1 Mona Apriska wansari Prodi D3 kebidanan.

Selama kuliah di Unisa, dari ke sembilan mahasiswa/i tersebut secara akademik mempunyai nilai rata-rata IPK 3,5 sangat memuaskan, atas prestasi nilai yang didapatkan oleh ke sembilan orang tersebut, meraka mendapat apresiasi beasiswa akademik dari pihak kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta berupa beasiswa ikatan perserikatan (BIP) Atau beasiwa Kader Muhamadiyah , yaitu berupa pengurangan SPP tetap dari pihak kampus sebesar Rp950.000.

"Sangat disayang kan selama ini pemerintah daerah menggaung-gaung kan lewat media bahwasanya dari ke sepuluh  orang tersebut mereka mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah Muratara, kenyataan jauh dari harapan sampai saat ini tidak ada sepeser pun beasiswa yang diterima," ungkap Mela.

Baru-baru ini kembali disampaikan tentang beasiswa oleh Bupati Musi Rawas Utara di SMK N Rawas Ulu (Senin, 17 Februari 2020). Pada waktu itu, orang tua wali dari 10 mahasiswa/i penerima beasiswa dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta turut diundang hadir dalam acara tersebut, bahkan Rektor Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta pun terlihat hadir di sana serta beberapa jajaran pejabat pemerintah daerah Kabupaten Muratara.

Dalam pidato sambutan kepala dinas pendidikan Muratara pada saat itu menyampaikan bahwa mahasiswa/i penerima beasiswa dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta akan mendapatkan dana beasiswa dari Pemkab Muratara di tahun 2020 yaitu sebesar Rp 9.000.000/tahun, dan dana tersebut akan diberikan secara bulanan /triwulan sebesar Rp 750.000/bulan.

"Jangan dipolitisir beasiswa kami, kami tidak mau bak/umak kami yang berkeringat tapi diklaim itu prestasi dari pemda," tegasnya.

Dika Restiana yang juga merupakan mahasiwa Muaratara di Unisa menilai Pemerintah Muratara tidak serius dan terkesan lepas tangan.

"Kami menilai pemerintah daerah tidak serius, bahkan seperti lepas tangan, tidak sesuai dengan visi dan misi pemerintah mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan murah, dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada di kabupaten Muratara," cetus Dika Restiana.

Selain itu Vira Melinda yang juga merupakan mahasiwa asal Muratara di Unisa meminta kepada Pemda Muratara melalui Dinas Pendidikan agar segera melakukan penyaluran bantuan beasiswa.

"Kami minta kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan untuk benar-benar merealisasikan beasiswa tersebut, jangan hanya menjadikan ini sebagai ajang klaim meng klaim, ini menyangkut pendidikan bukan sebuah permainan, jangan hanya menjadi isu liar," tutupnya. (ari)