Jejak Sultan Hamid II, Kerjasama dengan Westerling Ingin Bunuh Sri Sultan Hamengkubuwono IX -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Jejak Sultan Hamid II, Kerjasama dengan Westerling Ingin Bunuh Sri Sultan Hamengkubuwono IX

tuntas.co.id

Sultan Hamid II
TUNTAS.CO.ID - Nama Sultan Hamid II kini ramai dibicarakan, setelah mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono dalam sebuah video yang beredar menyebutnya sebagai pengkhianat. 

Lalu bagaimana bisa seorang mantan Kepala BIN menyebut Sultan Habid II sebagai penghianat, tuntas.co.id mencari kebenaran dari informasi tersebut.

Dilansir KITLV dalam situsnya, Syarif Hamid tumbuh dalam didikan tentara Kerajaan Belanda (KNIL), dia juga beristrikan perempuan Belanda. 

Namun demikian, Syarif Hamid terafiliasi secara politik dengan kaum Republik Indonesia.

Tahun 1950, ada upaya kudeta dari mantan Kapten tentara kerajaan Hindia-Belanda (KNIL) Raymond Westerling. Dia mendirikan milisi (sipil bersenjata) bernama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Dilansir BBC Indonesia, Syarif Hamid atau Sultan Hamid II dianggap terlibat dalam kudeta yang dilakukan Westerling tahun 1950 itu.

Ia dianggap ingin membunuh Menteri Pertahanan RI Sri Sultan Hamengkubuwono IX, bahkan sempat diadili dan dihukum 10 tahun penjara. 

Dilansir dari merdeka com, koronologis bermula dari dugaan bahwa Sultan Hamid II tidak puas dengan jabatan yang diberikan Soekarno. Dia hanya menteri tanpa portofolio yang bertugas menyiapkan acara kenegaraan dan lambang negara.

Hamid yang mantan opsir Belanda ini ingin menjadi menteri pertahanan RI. Alasannya, Hamid adalah perwira lulusan Akademi Militer Belanda. Dia kemudian diangkat menjadi jenderal mayor, pangkat tertinggi bagi perwira pribumi di Tentara Hindia Belanda atau KNIL.

Bandingkan dengan Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang yang 'cuma' dari Akademi Militer Belanda di Bandung. Atau Nasution yang 'cuma' lulusan Sekolah Perwira Cadangan Tentara Belanda. Sebagai lulusan Breda dan mantan tentara Hindia Belanda, tentu Hamid merasa lebih unggul.

Saat ditawari Westerling bergabung, Sultan Hamid II setuju. Westerling kemudian membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Anggotanya berasal dari Pasukan KNIL yang tak mau bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

APRA pimpinan Westerling menyerang Bandung. Mereka membunuh dengan kejam para prajurit Siliwangi. Namun aksi ini tak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, gerakan APRA bisa ditumpas oleh TNI. Niat mereka untuk melakukan kudeta ke Jakarta gagal karena suplai senjata yang mereka tunggu tak kunjung datang. Perlawanan ini dipatahkan di Cianjur dan Cikampek oleh TNI.

Maka Westerling dan Hamid menyusun rencana untuk menyerang sidang Kabinet RI di Jl Pejambon, Jakarta Pusat, tanggal 24 Januari 1950. Target yang akan dibunuh adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo dan Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang.

Penyerangan direncanakan pukul 19.00 WIB. Westerling bersama satu truk pasukannya telah siap. Namun saat dia hendak menyerang, ternyata Sidang Kabinet sudah bubar sekitar pukul 18.35 WIB. Sultan HB IX, Ali Budiarjo dan TB Simatupang serta semua pejabat penting RI sudah meninggalkan Jalan Pejambon.

Rencana pembunuhan ini gagal. Westerling kemudian melarikan diri. Sementara Sultan Hamid II berhasil ditangkap di Hotel Des Indes beberapa waktu kemudian.

Rencana membunuh Sultan HB IX adalah akhir petualangan Westerling di Indonesia. Dia kemudian dilarikan dengan pesawat Angkatan Laut Belanda ke Singapura, lalu ke Eropa dan akhirnya sampai ke Belanda.

Syarif Hamid wafat di Jakarta pada 30 Maret 1978. Dia dimakamkan di Makam Kesultanan Pontianak Batulayang.

Sultan Hamid II adalah tokoh sejarah yang merancang lambang negara Garuda Pancasila.

Dilansir Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Selasa (16/6/2020), Syarif Abdul Hamid Alkadrie lahir di Pontianak, 12 Juli 1913. Dia adalah putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. (*)