Ehm... Mereka Merayu si Merah | CATATAN REDAKSI -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Ehm... Mereka Merayu si Merah | CATATAN REDAKSI

tuntas.co.id


Kegiatan kader PDI Perjuangan | ist

Temaram malam belum sepenuhnya berlalu. Masih pagi, dan agak dingin. Rumah elok dengan cat warna merah itu telah membuka pintu lebar-lebar.

Menggoda, mengundang tamu untuk sekedar mampir. Berbual, berbasa basi mengulas bibir dengan senyuman yang sulit ditafsir.

Yah, meski masih ‘dini hari’, si Merah sudah membuka pintu untuk orang-orang genit yang ingin bertandang. Tak sekadar membuka lebar daun pintu, pun disambut ninik mamak tuo tau cerdik pandai tuan rumah dengan bahasa nan gemulai.

Pria sekelas Fachrori pun tak segan mampir mengadu peruntungan. Melantun pantun merayu mimpi dalam pesona si Merah.

Entah bagaimana ujungnya nanti. Namun sudah tentu paham dengan jalan takdir sang petandang. Sudah lah tentu siap untuk tidak patah hati dan patah arang.

Puk Fachori. Puk tak sendiri. Deret sembilan kursi merah itu juga diintai oleh pria lainnya. Mereka juga sepetu mu, Puk. Yang juga tak kuasa menahan diri di hadapan ratu pesona.

Puk pun tentu lah mafhum siapa mereka. Sesiap para pendekar yang merentak langkah melimbai tangan. Al Haris anak kaki Gunung Masurai, tuan ku Syarif Fasha dari Kota Baru, hingga Cek Endra putra jembatan Beatrik. Sama lah mereka dengan Puk. Melantun pantun, meminta cinta.

Memang. Siapa tak tau, buai kasih si Merah tengah di puncak pesona. Tetapi, belum lah tentu sinar pesona pemasti bahagia. Ada lah dara kerudung biru nan lembut hatinya, gadis kerudung kuning nan baik budi.

Selamat merayu Puk, Wo, Bang, Cek. Pantun bajawab pantun, seloko bebalas seloko. Namun surek sakti tentu lah menunggu angguk Nek No.