10 Muharram, 31 Anak Panah Pasukan Khalifah Muawiyah Tertancap di Tubuh Cucu Rasul
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITA SONGSONG NEW NORMAL DENGAN POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT

10 Muharram, 31 Anak Panah Pasukan Khalifah Muawiyah Tertancap di Tubuh Cucu Rasul



10 Muharram diperingati sebagai hari berdarah, karena di hari itu Husein Bin Ali Bin Abi Thalib wafat dalam tragedi Karbala, beliau adalah cucu dari Nabi Muhammad yang merupakan putra dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Husein wafat dibunuh oleh pasukan Khalifah Muawiyah. Dalam riwayat, Husein, pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi,  4.000 pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash menyerbu rombongan Husein yang hanya berkekuatan 72 orang, 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri dari anak-anak dan perempuan.

Tatkala 71 orang terjatuh satu persatu. Tinggal 1 orang dibuat bulan - bulanan, yakni Husein.

Dan riwayat menyebut tidak lebih dari 31 anak panah dan 34 sabetan pedang mengenainya, disitulah dia jatuh berlutut, semakin khusyuk beristighfar, hingga seorang bernama Syimr bin Dzin Jausyan mengayun kan pedang nya dari belakang ke lehernya.

Lalu kepalanya dipancung bahkan dikisahkan kepala yang selalu diciumi oleh Baginda Nabi Muhammad itu dijadikan bola tendang dan ditusukkan ke tombak

Beberapa waktu setelah tragedi Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan eksekusi terhadap beberapa orang jenderal sebab suatu masalah. Salah satunya adalah lelaki yang juga terlibat dalam pembantaian di Karbala.

Karena merasa terancam, lelaki itu melarikan diri ke Madinah. Di sana, ia menyembunyikan identitasnya dan tinggal di kediaman Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, cicit Rasulullah yang selamat dari pembantaian Karbala. Di rumah sosok yang dikenal sebagai 'as-Sajjad' (orang yang banyak bersujud) ini, lelaki itu betul-betul dijamu dengan baik.

Ia disambut dengan sangat ramah, disuguhi jamuan yang layak . Setelah tiga hari, lelaki pembantai dalam tragedi Karbala itu pamit pergi.
Lelaki itu sudah duduk di atas pelana kidanya, namun ia tak kuasa beranjak. Ia termenung atas kebaikan sikap As-Sajjad. Ia merasa trenyuh karena sang tuan rumah tak mengenali siapa dia sebenarnya.

Kenapa engkau tak beranjak?" tegur As-Sajjad. Lelaki itu diam sejenak, lalu ia menyahut, "Apakah engkau tidak mengenaliku, Tuan?" Giliran As-Sajjad yang diam sejenak, kemudian ia berkata, "Aku mengenalimu sejak kejadian di Karbala." Lelaki itu tercengang.

"Kalau memang engkau sudah mengenaliku, mengapa kau menjamuku

As-Sajjad menjawab, "Itu (pembantaian di Karbala) adalah akhlakmu. Sedangkan ini (keramahan) adalah akhlak kami. Itulah kalian, dan inilah akhlak kami". (*)

Sumber : Sufi Indonesia