Arkeolog UI Temukan Kapal Tertua di Asia Tenggara, Tak Ada Sedikitpun Besi -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Arkeolog UI Temukan Kapal Tertua di Asia Tenggara, Tak Ada Sedikitpun Besi

tuntas.co.id


Kapal yang ditemukan arkeolog UI | ist

JAMBI, TUNTAS.CO.ID - Arkeolog menemukan bangkai kapal di Kecamatan Muara Sabak Timur, Tanjung Jabung Timur Jambi. Diprediksi bangkai kapal ini merupakan yang tertua di Asia Tenggara.

Ali Akbar, dari Arkeologi Universitas Indonesia (UI) menyebut kapal ini berbentuk kapal kuno, memiliki panjang mencapai 17 meter dan lebar lima meter.

Menariknya, dari penelitian ini dikutip dari aksipost.com, berdasarkan referensi penetilitian tahun 1997 lalu telah ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai Perahu Kuno.

Namun belakang ini, ternyata ukurannya besar sekali dan lebih tepat disebut Kapal Kuno. Ia beranggapan perahu identik dengan didayung, sedangkan yang ditemukan sekarang bisa jadi menggunakan layar.

“Jadi cukup besar sekali, oleh karena itu penggalian atau ekskavasinya kita lebarkan. Karena kalau seandai perahu, mungkin bisa lebih cepat penelitiannya. Karena ini besar, mungkin akan memakan waktu yang lebih lama,” sebutnya.

Sisa kapal yang ditemukan arkeolog UI | ist

Ia menjelaskan, untuk bagian yang baru digali dan dibuka saat ini belum bisa diindentifikasi, tetapi sudah bisa dikatakan kalau bagian itu merupakan bagian atas berbentuk tempat orang mondar mandir.

“Kalau perahu yang ilir mudik di sungai itu memiliki lambung langsung dan lunas di bawah satu. Kalau perahu kuno atau kapal kuno yang kita jumpai ini, sisi tepinya bisa dibuat orang mondar mandir yang ukurannya besar pada waktu itu,” jelasnya.


Perahu ini disusun tanpa menggunakan besi atau hanya menggunakan bilah. Sedangkan papannya hanya disambung atau direkatkan dengan pasak yang terbuat dari kayu.

“Kita menjumpai banyak sekali pasak. Tehnik ini dikenal sebagai tehnik pembuatan Kapal Asia Tenggara. Kenapa disebut demikian, karena tehnik ini juga dikenal di Negara Malaysia, Thailand, Fhilipina dan Sumatera Selatan,” paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, kalau budaya maritim sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan cara membuat kapalnya sudah mirip pada waktu itu, karena belum mengenal dengan besi untuk pembuatan pasak perahu atau kapal.

Keramik yang ditemukan di sekitar kapal | ist

Bahkan termasuk juga kapal karam yang ditemukan di daerah Cirebon dan Perahu Kuno di Rembang (Daerah Jawa). Tehnik pembuatannya menggunakan istilah tehnik ikat yang telah dikenal oleh masyarakat di Asia Tenggara di abad ke dua masehi sampai dengan sekitar abad 12 masehi.

“Segera kita bawa sample kayu yang sudah beberapa yang copot atau patah untuk di uji karboneting, uji pertanggalan absolut. Dan nanti akan ketahuan,” katanya.

Di saat penelitian berlangsung ditemukan juga dua pecahan tembikar yang cukup kuno pada bagian perahu tersebut.

Sabak atau Zabak sudah dikenal dan disebut oleh para pedagang Arab, para pelancong dan para musafir sejak abad tujuh atau mungkin lebih tua lagi.

"Jadi, Zabak ini merupakan pelintasan yang sangat ramai sebenarnya," kata Ali Akbar. (*)