Jazirah Arab Semakin Sekuler, Arab Saudi Buat Kota Bernama Neom Seperti Dubai -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

Jazirah Arab Semakin Sekuler, Arab Saudi Buat Kota Bernama Neom Seperti Dubai

tuntas.co.id


Club malam di Bahrain | ist

TUNTAS.CO.ID - Budaya Arab kini justru semakin menipis di kawasan Arab, negara-negara Arab sudah cendrung sekuler. Cara berpakaian yang menggunakan jubah, bahkan sudah tidak digunakan lagi oleh sebagian masyarakat Arab.

Dikutip dari satuharapan.com, berdasarkan data survei Arab Barometer mereka yang mendukung kelompok Islam setelah pergolakan musim semi Arab pada 2011, semakin kecewa dengan penampilan kelompok Islam dan berubah pikiran.

Arab Barometer melakukan survei sosial multi-negara yang dirancang untuk menilai sikap warga tentang urusan publik, pemerintahan, dan kebijakan sosial di Dunia Arab, dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk sikap dan nilai masyarakat. Arab Barometer didirikan pada tahun 2005 oleh para ilmuwan di dunia Arab dan Amerika Serikat.

Dari hasil survei terbaru disimpulkan bahwa di Mesir dukungan penerapan syariah Islam menjadi 34 persen pada 2016 dari 84 persen di 2011.

Di tempat-tempat seperti Libanon dan Maroko kesetaraan gender di bidang pendidikan dan tempat kerja kini diterima secara luas. "Masyarakat mendorong perubahan," kata Kepala Barometer, Michael Robbins.

Pemimpin Arab menyesuaikan kebijakan mereka sesuai dengan semangat zaman. Sebagian bertindak karena kepentingan politik pribadi. Penguasa daerah tersebut pernah mencoba mengkooptasi kelompok Islam. Sekarang menganggapnya sebagai ancaman terbesar pemerintahan.

Banyak pemimpin Arab tampak benar-benar tertarik untuk membentuk masyarakat yang lebih sekuler dan toleran. Bahkan jika reformasi mereka tidak berlanjut ke ranah politik.

Uni Emirat Arab telah memimpin jalan pembatasan agama dan sosial secara perlahan. Putera mahkota Abu Dhabi dan pemimpin de facto Uni Emirat Arab, Muhammad bin Zayed, memimpin kampanye regional melawan gerakan Islam.

Dia telah membiayai pembangunan cabang universitas dan galeri seni Barat. Dia mendorong perempuan muda keluar dari pengasingannya di rumah dan memasuki dinas militer, termasuk putrinya sendiri. Tentara perempuan sering jalan-jalan dengan berseragam.

Berbeda dengan pemimpin nasionalis pasca kemerdekaan di kawasan ini yang membersihkan masyarakat mereka dari orang-orang Armenia, Yunani, Italia dan Yahudi. Kini mereka telah memeluk keberagaman walaupun pembatasan ketat terhadap kewarganegaraan tetap ada.

Presiden Mesir Abdel Fattah al Sisi tidak hanya melarang Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam terkemuka di kawasan ini. Dia mengecam al Azhar, tempat belajar tertua di dunia Muslim, karena intoleransi. Dia telah menutup ribuan masjid dan mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh mengorbankan domba di rumah mereka selama perayaan keagamaan tanpa izin.

Burkini, pakaian renang yang menutupi tubuh perempuan untuk perempuan konservatif, telah dilarang di beberapa pantai. Dia menerabas pendahulunya. Al Sisi menghadiri misa Natal di katedral Koptik Kairo tiga tahun berturut-turut meski tidak tinggal lama. "Kami menjadi lebih Eropa," jelas seorang pejabat Mesir.

Di selatan Kairo, para perempuan tidak berjilbab duduk-duduk di kafe-kafe jalanan. Mereka menghisap sisha yang secara tradisi merupakan kebiasaan laki-laki. Beberapa tempat menyediakan alkohol yang dilarang Islam.

Perubahan baru telah lahir di Arab Saudi yang sangat konservatif. Putera mahkota muda, Muhammad bin Salman, telah menahan polisi religius, memecat ribuan imam, dan menyensor teks-teks ekstremis. Perempuan segera diizinkan mengendarai mobil dan memasuki stadion olahraga.

Mereka didorong untuk bekerja. Kini Pangeran Muhammad ingin menciptakan kota baru, Neom, meniru Dubai. Video promosinya menunjukkan wanita tidak berjilbab berpesta dengan laki-laki.

"Kami hanya kembali kepada apa yang kami dulu, memoderasi Islam, terbuka kepada dunia dan semua agama," katanya kepada investor asing pada bulan Oktober.

Perubahan ke arah moderat ini terjadi di mana-mana. Di negara-negara dengan pemerintahan yang kurang dinamis, jajak pendapat menunjukkan dukungan syariah dan simpati terhadap gerakan Islam tinggi. Seperti di Aljazair, Yordania dan Palestina. Tetapi kaum sekuler bisa ditemukan di tempat yang paling konservatif sekalipun. (*)