SD Muhammadiyah Gantong, Melambungkan Nama Belitung Tapi Kini Tak Terurus -->
Cari Berita
GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH, JAGA JARAK DAN RUTIN CUCI TANGAN, KITALAH YANG MENCEGAH COVID-19

SD Muhammadiyah Gantong, Melambungkan Nama Belitung Tapi Kini Tak Terurus

tuntas.co.id



Bendera merah putih terpasang gagah di tiang setinggi kurang lebih tiga meter, melambai berat karena basah setelah Rabu (14/3) siang itu, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur diterpa hujan deras.

Tiang bendera ini tampak cukup mencolok, berdiri di atas bukit, tepat di depan bangunan tua berplang hijau ukuran 50 cm panjang satu meter, tergantung di bawah atap teras depan bangunan, dengan tulisan 'SD Muhammadiyah Gantong'.

Bangunan ini duplikat dari SD Muhammadiyah Gantong Belitung di film Laskar Pelangi, yang booming sejak rilis pada 2008.

Jika anda pernah menonton film Laskar Pelangi, anda pasti ingat dengan SD Muhammadiyah Gantong ini, karena sebagian besar pembuatan film diambil di sekolah Islam yang konon tertua di Belitung.

Di sekolah ini dalam cerita Laskar Pelangi, beberapa orang siswa dari masyarakat ekonomi kelas bawah mengenyam pendidikan formal.

SD ini diingat dengan struktur bangunan yang sederhana, berdinding panpan yang beberapa bagian berlubang, atap seng berkarat, bahkan sebagian seng sudah  terbelah. Lantainya pasir putih khas pantai Belitung.

Pasca boomingnya Laskar Pelangi, duplikat bangunan SD Muhammadiyah Gantong bukan hanya menjadi ikon dari film, namun kini memberi kesan sudah menjadi maskot Pulau Belitung.

Tak heran lokasi tersebut menjadi destinasi wisata yang 'wajib' dikunjungi saat anda datang ke Belitung.

Jaraknya sekitar 100 kilometer dari Tanjung Pandan, ibu kota Kabupaten Belitung, kota paling ramai di pulau penghasil timah dan lada hitam ini.

Perjalanan bisa ditempuh dengan durasi waktu kurang lebih satu setengah jam, bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, kondisi jalan beraspal hitam mulus. Untuk masuk ke lokasi anda cukup membayar Rp 5.000 per orang.

Lokasi ini sekarang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Belitung Timur, karena di sisi kiri pelataran terdapat pedagang yang menjajakan makanan khas Belitung dan batu satam, batu yang konon berasal dari pecahan meteor dan cuma ada di Pulau Belitung.

Namun, ada yang luput dari perhatian pengelola kawasan wisata ini, duplikat SD Muhammadiyah Gantong kurang terawat.

Kunjungan kami  ke sana, menunjukan fakta lain dari bangunan yang sudah membuat Belitung dikenal setara dengan 'raja-raja' destinasi di Indonesia.

Rumput liar setinggi dua kali orang dewasa, hampir menyelimuti seluruh bagian belakang dinding duplikat SD Muhammadiyah Gantong.


Bukan hanya semak belukar yang tumbuh subur menyelimuti dinding bangunan, sampah juga berserak di pelataran kiri dan kanan sampai belakang, mulai dari sampah plastik makanan ringan hingga plastik air mineral.

Dinding bangunan juga tak luput dari aksi vandalis tangan-tangan jahil, mereka menuliskan nama, quotes, dan beberapa tulisan singkat yang ingin menunjukan bahwa mereka pernah ke sana.

"Sayang sekali kayak terbengkalai begini," kata seorang pengunjung, Faizarman.

Cueknya pengelola terhadap bangunan ini, jelas sangat tidak seimbang dengan sumbangsih dari keberadaannya yang sudah menaikan nama Belitung menjadi tujuan wisata para pelancong.

"Kalau pemerintah daerahnya atau pengelola mau memperhatikan, mungkin bisa lebih ramai yang datang ke sini. Bagaimanapun Belitung ini naik sejak ada Laskar Pelangi," sambung Faizarman. 

SD Muhammadiyah Gantong kini masih menunggu tangan-tangan kreatif dan inovatif untuk bisa bertahan, lebih baik dari sekarang dan lebih ramai didatangi orang.

"Sesuatu yang baik akan menjadikan pelanggan sebagai iklan berjalan" begitu quotes dari pengusaha terkemuka Amerika Serikat, James Cash Penney. (**)

Reporter : Budi Darma